Pater van der Loo lahir di Amsterdam pada 15 September 1872. Sebagai anak laki-laki, jiwa misionaris sudah ada dalam dirinya. Dia adalah salah satu pencari dana pertama yang mengumpulkan uang untuk St. Claverbond yang didirikan pada tahun 1889.
Ia memulai masa novisiat pada 26 September 1892 di Mariendaal. Ia ditahbiskan menjadi Imam pada 26 Agustus 1960. Setelah ditahbiskan ia bekerja di Katwijk Gymnasium, sebelum di kirim ke misi Hindia Belanda. Ia tiba di Larantuka pada 3 Januari 1911.
Pater van der Loo dianggap sebagai misionaris “pembangun gereja” selama 11 tahun. Ia membangun 3 gereja dan 11 kapel selama kepemimpinannya. Ia menjadikan masa kepemimpinan dan segala yang telah ia lakukan dalam artikel yang membangun St. Claverbond. Dalam setiap jilid ada deskripsi karya-karya untuk keselamatan jiwa-jiwa di negara misi.
RIWAYAT TUGAS PATER JOHANNES VAN DER LOO, S.J. SELAMA DI INDONESIA
| KARYA | LOKASI | TAHUN |
| Pastor Stasi Larantuka | Flores | 1911-1917 |
| Pastor Paroki Katedral | Jakarta | 1917-1920 |
| Pastor Stasi Kramat | Jakarta | 1920-1922 |
Ia tidak bekerja untuk dirinya sendiri, karena pada tahun 1911 diketahui bahwa Kepulauan Sunda kecil, termasuk Flores akan diserahkan dari Serikat Jesus kepada Kongregasi SVD.
Pada tahun 1913, Timor sudah diduduki oleh Kongregasi SVD, tetapi perang dunia menyebabkan Pater van der Loo untuk tetap di jabatannya selama beberapa tahun. Pada tahun 1918, Serikat Jesus meninggalkan Timor bersama Pater van der Velden. Ia dipindahkan ke Batavia.
Di Batavia, ia ditunjuk untuk mengurus wilayah Kramat, di mana panti asuhan St. Vincentius berada. Di sini juga didirikan sebuah gereja baru, Gereja Hati Kudus yang batu pertamanya diletakkan pada 27 Mei 1920 dengan umat 1200 orang Eropa dan Indonesia Katolik.
Selain itu, ia juga mengurus misi Jawa di Kampung Sawah yangsudah dimulai oleh Pater Schweitz pada 1895 bersama dengan penduduk asli. Pater van der Loo diminta untuk memeriksa dan melihat apakah masih banyak orang yang ingin dibaptis dan menjadi Katekis. Kenyataannya ada 150 orang yang bersedia untuk menjadi katekis dan dibaptis.
Dengan berbekal 150 orang ini, ia berusaha mencari bantuan dan dukungan dari Belanda untuk membangun sebuah gereja. Akhirnya pun terbangun gereja sedikit demi sedikit. Namun, ketika hampir selesai, ia tidak dapat menyaksikannya. Ia telah dipanggil untuk ekmbali ke negaranya. Ia menjadi Pastor di Krihtberg, yang bersemangat dalam Kerasulan Doa. Ia mengambil dan mengerjakan tugas dengan cinta dan pengabdian.
Tujuh tahun setelah kembali ke Belanda, sulit untuk dipercaya bahwa kesehatannya benar-benar telah memburuk di tanah tropis. Selama 8 tahun, ia bertahan diu Belanda sepulangnya dari Hindia, ia menanggung rasa sakit dengan ketidakhati-hatian apostolik. Sampai tiba-tiba pada 5 April 1930, ia dipanggil Tuhan ditengah pekerjaannya.